G
N
I
D
A
O
L

Teknik Kudari, Inovasi Kepala SD Negeri 1 Kamasan yang Antarkan Raih Juara 3 Anugerah Guru Prima PGRI Bali 2025

KLUNGKUNG — Berangkat dari kegelisahan untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah, Kepala SD Negeri 1 Kamasan, I Gusti Lanang Gede Putra Astawa, S.Pd.SD, menghadirkan sebuah inovasi pembelajaran yang memadukan inkuiri kolaboratif dengan teknik Kudari (Kuatkan, Dampingi, Amati, dan Refleksi).

Inovasi yang diberi nama “TEKNIK KUDARI BERBASIS INKUIRI KOLABORATIF: OPTIMALISASI IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN MENDALAM DI SD NEGERI 1 KAMASAN” tersebut berhasil mengantarkan I Gusti Lanang Gede Putra Astawa meraih Juara 3 Anugerah Guru Prima PGRI Provinsi Bali Tahun 2025.

Inovasi ini lahir dari kondisi nyata yang dihadapi sekolah dalam mengimplementasikan pendekatan pembelajaran mendalam. Berdasarkan Rapor Pendidikan SD Negeri 1 Kamasan Tahun 2025, kualitas pembelajaran sekolah berada pada kategori “baik” dan mengalami peningkatan sebesar 18,5 poin dibandingkan tahun 2024. Namun, hasil tersebut dinilai masih memiliki ruang untuk terus ditingkatkan, khususnya pada aspek metode pembelajaran, dukungan psikologis, dan manajemen kelas.

Di sisi lain, terdapat tantangan dalam meningkatkan pemahaman guru mengenai pembelajaran mendalam. Sebagian pemahaman guru sebelumnya diperoleh dari berbagai sumber media sosial yang cenderung menyederhanakan konsep, sehingga berpotensi menimbulkan kebingungan dan miskonsepsi. Keterbatasan waktu untuk belajar bersama juga menjadi persoalan tersendiri.

Kondisi tersebut mendorong I Gusti Lanang Gede Putra Astawa mencari strategi yang praktis, sistematis, dan sesuai dengan kondisi sekolah. Dari proses tersebut lahirlah gagasan untuk menggunakan inkuiri kolaboratif sebagai pendekatan dalam membangun budaya belajar bersama di antara para guru.

Empat Langkah Kudari

Teknik Kudari dirancang melalui empat tahapan utama, yaitu Kuatkan, Dampingi, Amati, dan Refleksi. Teknik ini kemudian diintegrasikan ke dalam empat tahapan inkuiri kolaboratif, yakni assess, design, implement, serta measure, reflect, and change.

Pada tahap Kuatkan, guru mendapatkan penguatan melalui pelatihan mengenai pola pikir bertumbuh, dimensi profil lulusan, konsep pembelajaran mendalam, serta penyusunan perencanaan pembelajaran. Kegiatan ini melibatkan kepala sekolah dan guru yang sebelumnya telah mengikuti pelatihan pembelajaran mendalam.

Selanjutnya, pada tahap Dampingi, guru memperoleh pendampingan secara individu dengan waktu yang fleksibel. Pendampingan difokuskan pada penyusunan tujuan pembelajaran, desain pengalaman belajar, dan asesmen.

Tahap berikutnya adalah Amati. Kepala sekolah mengamati secara langsung penerapan rencana pembelajaran di kelas, khususnya untuk melihat sejauh mana prinsip pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan telah diterapkan.

Tahap terakhir adalah Refleksi. Guru bersama kepala sekolah meninjau kembali proses pembelajaran, mengidentifikasi pengalaman, tantangan, serta bagian-bagian yang masih perlu diperbaiki.

Dengan pola tersebut, peningkatan kapasitas guru tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan, observasi praktik nyata, dan refleksi berkelanjutan.

Dari Pelatihan Menuju Perubahan Praktik

Dampak inovasi tersebut terlihat dari hasil evaluasi terhadap 25 guru peserta. Hasil post-test menunjukkan tingkat ketuntasan mencapai 80 persen, dengan 20 dari 25 guru memperoleh nilai di atas atau sama dengan batas minimal 60. Rata-rata nilai yang diperoleh mencapai 69,2.

Tidak hanya pada aspek pemahaman, perubahan juga terlihat dalam kemampuan guru menyusun dan melaksanakan pembelajaran mendalam. Hasil observasi menunjukkan kemampuan guru dalam menyusun perencanaan pembelajaran berada pada kategori “baik”. Hal yang sama juga terlihat pada penerapan pembelajaran di kelas, dengan seluruh guru memperoleh kategori “baik”.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa inovasi Kudari tidak sekadar menjadi sebuah konsep, tetapi telah diterapkan dalam praktik dan memberikan dampak terhadap peningkatan kapasitas guru.

Lebih jauh, penerapan teknik ini juga mendorong tumbuhnya kebiasaan refleksi di kalangan guru. Guru mulai terbiasa meninjau kembali perencanaan pembelajaran dan melakukan perbaikan setelah melaksanakan pembelajaran di kelas.

Kepala Sekolah sebagai Penggerak Perubahan

Bagi I Gusti Lanang Gede Putra Astawa, inovasi tersebut bukan semata-mata tentang menciptakan sebuah teknik baru, tetapi tentang bagaimana kepala sekolah dapat menciptakan ekosistem belajar bagi guru.

Pendekatan yang digunakan menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi guru tidak selalu harus dilakukan melalui pelatihan berskala besar. Dengan kegiatan yang terstruktur, konsisten, dan kolaboratif, sekolah dapat membangun proses peningkatan kualitas pembelajaran dari dalam lingkungan sekolah sendiri.

Keberhasilan inovasi tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya kolaborasi seluruh warga sekolah. Kepala sekolah tidak ditempatkan hanya sebagai pengawas pembelajaran, tetapi sebagai fasilitator yang ikut belajar, mendampingi, mengamati, dan mengajak guru melakukan refleksi.

Pengakuan melalui Juara 3 Anugerah Guru Prima PGRI Provinsi Bali Tahun 2025 menjadi apresiasi atas upaya tersebut sekaligus menunjukkan bahwa inovasi yang berangkat dari persoalan nyata di sekolah dapat berkembang menjadi praktik baik yang memiliki nilai inspiratif.

Teknik Kudari menjadi bukti bahwa perubahan dalam pembelajaran dapat dimulai dari langkah sederhana: menguatkan guru, mendampingi prosesnya, mengamati praktiknya, kemudian merefleksikan dan memperbaikinya secara berkelanjutan.

Dari SD Negeri 1 Kamasan, inovasi tersebut membawa sebuah pesan penting: pembelajaran mendalam bagi siswa dapat diawali dari proses belajar mendalam para gurunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *